Entri Populer

Kamis, 08 September 2011

Suara dari Jalan

Bandar Lampung
Kau tahu apa itu cinta? kau tau apa itu kasih sayang?
Kami fikir kalian semua tahu dengan itu. Betapa tidak hampir disetiap hembusan nafas kalian, terdengung kalimat cinta kasih dan sayang dari mana pu, baik sahabat, pacar, saudara, kaka, ibu ataupun ayah.
Tapi pernah kalian membayangkan sejenak saja, apakah kami kenal dengan rasa itu?. sejatinya kami iri dimana saat-saat itu penuh kebahagian, tertawa, dan canda.
Hari-hari kami selalu dipenuhi dengan kecemasan. Cemas tidak dapat uang, cemas koran tidak laku, cemas tidak ada manusia lain yang berbagi, dan cemas dengan para polisi-polisi pemerintah yang selalu menghantui kami untuk terus tinggal secara nyaman, pun kami tahu tidur dijalan itu bukan sebuah kenyamanan obyektif.
Tapi untuk kami tidak diusir dan digelandang ke kantor polisi saja sudah merasa nyaman.
Kami pun menyadari siapa yang mau terlahir dalam keadaan seperti ini? anjing pun mungkin kalau bisa berbicar rasanya mereka akan berkata seperti apa yang kami katakan. Tapi kami tak perduli dengan semua itu, kami tak perduli dengan cemoohan orang mengenai kami. Siapa mereka, apakah mereka yang memberi kami makan? toh kami meminta sedikit rezeki mereka saja mereka pergi bahkan sampai tega mengusir.
Dengan pembenaran dibalik kami ada manusia lain yang memnfaatkan kami agar orang itu mendapatkan keuntungan. Presetan dengan itu!!!! yang terpenting kami bisa makan.
Para petinggi-petinggi negara hanya bisa berbicara " tujuan kami adalah untuk kesejahteraan bangsa, tujuan kami adalah agar terciptanya situasi ekonomi yang baik"..atau bla..bla..bla..
Mahasiswa yang kami anggap betul-betul menjadi malaikat kami pun hari ini sudah tergerus masuk lingkaran setan. Mereka hanya berteriak," pecat Pemimpin korup yang tidak memikirkan rakyatnya"..." Pendidikan untuk orang miskin, kesehatan untuk orang tidak mampu"..
Omong kosong dengan itu, sedari lahir kami dikutuk menjadi penduduk jalanan dinegeri yang hampa tanpa adanya rasa kasih sayang dan cinta kasih atas saudara sesama. Ini yang dimaksud para pejabat pemakai jas yang harganya jutaan..Kemanusiaaan yang adil dan beradan dan Persatuan Indonesia.
Kami hanya mampu berdo'a kelak ada manusia yang berhati besar untuk memikirkan nasib kami. Kalaupun pada saatnya kami sudah mati, tolong generasi kami jangan samapai merasakan apa yang dirasakan nenek moyangnya..
Selamat Sore Indonesia

Rabu, 07 September 2011

Wajah suram negeri di hari nan Fitri

Bandar Lampung/
Hari ini malam masih menampakkan wajah lamanya. Seolah tak menghiraukan manusia yang sudah bosan dan mencapai titik kejumudannya ketika melihat ternyata bulan selalu seperti ini, tak ada perubahan.
Sama halnya dengan bangsa ini, yang tidak memiliki arah dan tujuan yang di desain kemana dan dimana muara akhir dari segala penghargaan tas keringat yang tercecer dari tubuh-tubuh si petani dan buruh. Nampaknya bangsa ini sudah tidak memiliki feel of change sebagaimana orang-orang yang katanya dulu dianggap berjasa dalam menentukan perubahan bangsa.
Anak-anak kecil masih tidak mampu merasakan dan mengenyam dunia pendidikan yang layak nan mencerdaskan. Bapak-bapak masih terus harus berjuang agar mampu menghidupi keluarganya meskipun mereka harus tahu bahwa tetesan keringat satu minggu hanya mampu memenuhi kebutuhan paling lama tiga hari.
Apakah ini tujuan dari kemerdekaan bangsa? apakah hanya sebatas ini akhir perjuangan dahulu hingga mengorbankan nyawa dan keluarga? ada apa dengan bangsa yang katanya sangat kaya di segala aspek?
Berapa banyak orang yang rela berdesak-desakan demi untuk beras yang seberat 2,5 kg? berapa banyak orang yang merelakan dirinya mati karena tak mampu menyembuhkan penyakit didirinya?
Ini sebuah fenomena yang mau tidak mau direnungkan oleh semua kalangan yang hari in i merasa memiliki tanggung jawab besar dalam mengawal dan menakhodai tujuan bangsa dan negara dimasa yang akan datang. Jangan pernah ini dianggap sebagai kamuflase belaka, ini realita masyarakat. Janngan ada lagi yang dengan nada tertawa " itu takdir mereka".
Semoga ini menjadi perenungan bersama di momentum yang fitri karena setelah ini insya allah kita akan kembali kepada fitrahnya.