Selamat Pagi Indonesia,Selamat Pagi Lampung, Selamat Pagi Para pemuda yang baru saja terbangun dari tidur lelap dan tengah bersiap-siap untuk membangun Negeri ini.
Ungkapan “selamat pagi”, itulah kata pembuka yang pas dan sangat hangat, Karena ketika terbangun di pagi hari adalah rutinitas kita yang diartikan dan dimaknai dalam hubungan ibadah ( Ubudiah = Hablun minnallauh / Hubungan Vertikal ), adalah sebuah ungkapan dan atau bentuk rasa syukur kita atas karunia hidup. Dimana seseorang terbangun dari tidur pulasnya, di dalamnya terjadi pelepasan beban fisik, fikiran, dan bathin.( Dody Susanto. Ilmu politik Bangun Pagi). Ketika pagi hari fikiran kita masih murni dan segar, untuk memulai berfikir apa yang harus dilakukan setelah matahari mulai meninggi.
Inilah titik awal ketika kita harus mengucapkan Selamat Hari Sumpah Pemuda Ke-81 dan berbicara bagaimana langkah kita untuk mulai membangun Negeri ini, Negeri yang dimana kita ketahui sedang mengalami krisis yang tak kunjung usai, sejak runtuhnya Orde Baru.
Jika kita berbicara tentang Negeri ini dan pembangunannya, satu bagian yang tidak akan pernah kita hilangkan dan lupakan, yaitu “pemuda”. Seperti apa yang di sebutkan oleh Ortega G. Yasset, bahwa pemuda adalah the agent of change, yang di bebani harapan-harapan sebuah Bangsa.
Peran Pemuda jelas sudah tidak dapat kita bantah lagi, apalagi dalam runtutan sejarah Bangsa ini. Sejak Zaman kerajaan dahulu, kita Sudah mengenal sosok Pangeran Dipenogoro, yang baru berusia 16 Tahun telah ikut berperang, kemudian Hayam Muruk, yang masih belia sudah memimpin Kerajaan Majapahit, hingga masuk abad ke-19, ketika itu kita mengenal momen kebangkitan Nasional bersamaan didirikannya Budi Utomo, yang di prakarsai oleh tokoh Muda kita sebut saja, Soetomo dan Goenawan Mangoen Kusumo, kemudian selang beberapa Tahun kemudian tepatnya Tahun 1928, Kaum Muda Mengguncang sejarah dengan mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Sebuah Manifesto Yang Heroik, dimana seluruh organisasi pemuda se- Nusantara berkumpul dan mengikrarkan tiga Sumpah yang sekarang kita kenal dengan Sumpah Pemuda. Alur sejarah pun terus berlanjut sampai dengan tahun 1998 bersamaan runtuhnya rezim Orde Baru, dan berganti dengan Era Reformasi. Rentetan sebagian perjalanan sejarah Negara ini sangat kental tercium “darah muda” negeri ini, Itulah mengapa kaum Muda adalah aset yang tak ternilai harganya, apalagi ditengah-tengah segala gejolak yang di alami bangsa dan tak pernah usai saat ini, maka tampuk harapan ada pada pundak para pemuda.
Memang tidak layak jika kita harus membandingkan Pemuda zaman sekarang dengan Zaman Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, masa Kemerdekaan hingga Masa transisi antara Era Orde Baru dan Era Reformasi. Secara teori psikologi memang menyebutkan bahwa setiap orang yang merasa tertindas akan memberontak dan melawan demi perubahan yang di inginkan Karena jelas pada masa itu Negara ini sedang mengalami tekanan dan tindasan yang amat sangat kejam.
Tapi seiring berjalannya waktu pada Abad ke 20 ini, warna-warni modernisasi begitu kental terlihat di setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat yang dimana semua kebudayaan yang berasal dari barat, bebas masuk dan dengan cepat dapat menahkodai dan bahkan mampu menjajah kebudayaan asli kita, ini terbukti dengan fakta hampir semua Stasiun Televisi Swasta berbondong-bondong menyajikan tontonan yang di adopsi dari Budaya Barat, Tentu saja ini sangat memengaruhi cara berfikir masyarakat kita terutama para remaja, dampaknya ini merubah segala tatanan kehidupan remaja kita, contohnya ; Dari cara bergaul hingga cara berpakaian remaja kita sangat jauh menyimpang dari norma kesopanan yang sudah se dari dulu di turunkan para leluhur kita, Sederetan revolusi yang menghinggapi para kaum muda itulah maka kita sejenak harus rela mengerucutkan dahi kita. Sebab kini semangat yang terpatri dan menjadi ciri khas pemuda kita seperti Semangat patriotis dan membangun, yang dahulu melekat di diri para pemuda kita, seolah-olah tertidur karena asik terbuai dengan budaya yang notabene tidak pantas kita terapkan di Negara yang penuh dengan Norma kesopanan ini.
Belum lagi jika kita melihat serentetan kasus criminal dan moral yang melibatkan beberapa pioneer pembangunan kita, yang baru-baru ini mengejutkan public. Seperti tawuran antar Mahasiswa, belum lagi sederetan kasus pelecehan seksual, narkoba yang didalamnya melibatkan generasi muda harapan bangsa ini, patut kita renungkan bersama, sebetulnya ada apa dengan Pemuda kita saat ini?. Sehingga mereka lupa bahwa sebetulnya Negara ini bak sebuah kapal yang butuh Nahkoda, dan merekalah yang akan menjadi nahkoda Negara ini, akan di bawa kemana kapal ini, tergantung seorang nahkodanya?.
Di masa krisis inilah, peran pemuda sangat di butuhkan untuk mengurai permasalahan demi permasalahan yang mendera bangsa ini. Seperti apa yang di lakukan di masa-masa sebelumnya, di mana pemuda menjadi pioneer dalam penyelesaian permasalahan yang di alami Bangsa ini. Pemudalah yang menjadi the agents of change, dalam setiap alur peradaban Bangsa ini, apakah menjadi lebih baik atau sebaliknya.
Sejatinya Perubahan tidak bisa kita tunggu tetapi harus kita kejar. Dan sudah selayaknya setiap perjuangan membutuhkan kerja keras, dan di butuhkan kapabilitas, dan jangan pernah merasa “belaga’ hebat”, kita harus tunjukan dahulu prestasi kita baik dari segi Intelektual, dan kematangan emosi . Lupakanlah sejenak tentang ke glamoran Modernisasi, globalisasi dan sebagainya. Lupakan Pertikaian antar sesama demi tujuan yang tidak jelas. Asahlah kemampuan emosional, seperti kemampuan membawa diri, kemampuan bergaul dengan sesama, kemampuan membaca akar permasalahan, kemampuan untuk menelorkan gagasan atas sebuah permasalahan, Agar kita tidak menjadi budak dari budaya Modernisasi yang di prakarsai oleh budaya Barat.
Marilah bersama-sama kita meriahkan hari Sumpah Pemuda ini dengan memaknai dan meresapi atas apa yang tersirat dari Sumpah Pemuda tersebut, sebagai langkah awal menuju generasi muda yang tangguh yang mampu mempertahankan kebesaran Negeri ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar