Entri Populer

Rabu, 07 September 2011

Wajah suram negeri di hari nan Fitri

Bandar Lampung/
Hari ini malam masih menampakkan wajah lamanya. Seolah tak menghiraukan manusia yang sudah bosan dan mencapai titik kejumudannya ketika melihat ternyata bulan selalu seperti ini, tak ada perubahan.
Sama halnya dengan bangsa ini, yang tidak memiliki arah dan tujuan yang di desain kemana dan dimana muara akhir dari segala penghargaan tas keringat yang tercecer dari tubuh-tubuh si petani dan buruh. Nampaknya bangsa ini sudah tidak memiliki feel of change sebagaimana orang-orang yang katanya dulu dianggap berjasa dalam menentukan perubahan bangsa.
Anak-anak kecil masih tidak mampu merasakan dan mengenyam dunia pendidikan yang layak nan mencerdaskan. Bapak-bapak masih terus harus berjuang agar mampu menghidupi keluarganya meskipun mereka harus tahu bahwa tetesan keringat satu minggu hanya mampu memenuhi kebutuhan paling lama tiga hari.
Apakah ini tujuan dari kemerdekaan bangsa? apakah hanya sebatas ini akhir perjuangan dahulu hingga mengorbankan nyawa dan keluarga? ada apa dengan bangsa yang katanya sangat kaya di segala aspek?
Berapa banyak orang yang rela berdesak-desakan demi untuk beras yang seberat 2,5 kg? berapa banyak orang yang merelakan dirinya mati karena tak mampu menyembuhkan penyakit didirinya?
Ini sebuah fenomena yang mau tidak mau direnungkan oleh semua kalangan yang hari in i merasa memiliki tanggung jawab besar dalam mengawal dan menakhodai tujuan bangsa dan negara dimasa yang akan datang. Jangan pernah ini dianggap sebagai kamuflase belaka, ini realita masyarakat. Janngan ada lagi yang dengan nada tertawa " itu takdir mereka".
Semoga ini menjadi perenungan bersama di momentum yang fitri karena setelah ini insya allah kita akan kembali kepada fitrahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar