Sepanjang perjalanan mata tak lepas,
dari pemandangan yang terbentuk, dari bongkahan asa demi hidup esok hari.
Ribuan wajah menampakkan dirinya sesuai karakter yang diperankan
Disparitas kualita menjadi titik penentu sepeti apa wajah itu
Sementara lukisan terpampang sebagai hiasan dinding kemawahan
alam jagat. Menawarkan kehidupan mewah yang dilihat ribuan orang yang sedang kelaparan.
Ribuan anak indonesia dipaksa belajar dari sebuah pengalaman.
pengalaman berdiri dipanas terik matahari untuk membantu mencari nafkah keluarga.
Pendidikan hanya dapat mereka rasakan kala televisi menawarkan pendidikan berkualitas, bertaraf internasional.]
Namun maaf " bukan untuk anak miskin"
Seperti ini ternyata keadilan negeri ini.
Ini yang dimaksud oleh leluhur bangsa?
Bahwa pendidikan dan kesejahteraan bukan milik kaum miskin..
Entri Populer
-
Tiba-Tiba saja aku rindu akan tanah kelahiran ku yang sudah lama ditinggalkan demi menuntut ilmu di Negeri Orang. 21 Tahun Silam saya dilahi...
-
Selamat Pagi Indonesia,Selamat Pagi Lampung, Selamat Pagi Para pemuda yang baru saja terbangun dari tidur lelap dan tengah bersiap-siap unt...
-
Tak tahu siapa sutradaranya, Yang pasti Seluruh stasiun Televisi saat ini sedang diramaikan dengan gejolak panggung konflik antara KPK dan P...
-
“Pengalaman yang dialami hari ini adalah fakta. Dan fakta tersebut tersimpan dalam memori kita, sehin...
-
Ibu...kau tahu rasa sakit itu Bukan karena kau terjatuh atau tersandung Namun karena aku begitu sombong hinggap diperutmu Ibu kau tahu m...
-
Assalamualaikum Wr. Wb Salam Pemoeda!!! Kata pembuka yang memang tak akan pernah lekang dimakan zaman, bagi seluruh teman-teman pemuda se- ...
-
“ Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menciptakan pemimpin yang lebih baik dari dirinya, un...
-
Bandar Lampung/ Hari ini malam masih menampakkan wajah lamanya. Seolah tak menghiraukan manusia yang sudah bosan dan mencapai titik kejumud...
-
Layaklah jika kita mengorelasikan antara sebuah Negara dengan Pemuda Negara tersebut. Karena Bukan hanya Indonesia, seperti Negara-Negara Am...
-
Perjuangan merupakan fitrah manusia saat dilahirkan kedunia. Dengan segala keterbatasan dan ketidak sempurnaan manusia, sudah selayaknyalah ...
Kamis, 30 Juni 2011
Puisi untuk ibu
Ibu...kau tahu rasa sakit itu
Bukan karena kau terjatuh atau tersandung
Namun karena aku begitu sombong hinggap diperutmu
Ibu kau tahu makna keikhlasan
Bukan karena kau kehilangan harta bendamu
Namun karena aku pernah menyakiti hatimu..
Dulu..kala aku merengek meminta sesuatu
kau hanya tersenyum
seraya berkata..." ia nak, sabar...pasti ada"
Ketika aku membohongimu...
kau diam dan pura-pura tidak tahu..
Dulu saat akku ingin pergi sekolah
begitu sibuknya kau mengurusi aku dan tinggalkan pekerjaanmu
saat ini...kau tak ada disampingku bu....
karena aku sudah kuliah dan besar
kau pasti merindukanku..
Mungkin kau sakit, karena memikirkanku..
"sedang apa anakku disana??,sudah makan kah ia?"
Namun aku hanya selintas memikirkannya..
ketika dia tanya kapan pulang,,dengan sombong aku jawab
"Aku sibuk bu,,banyak ini, banyak itu.."
Sadarkah kita dia kecewa..
tahukah kita dia menangis???
Oh...betapa sombongnya aku ini..
Ingatkah kita bahwa dia tak selamanya ada disamping kita?
Kepada siapa kita akan manja saat dia tidak ada?
Kepada siapa kita curahkan hati kala dia sudah tiada??
Kuburannya...batu nisannya..fotonya...??
Kawa....itu semua tak dapat gantikan nya seperti dia ada disamping kita
Menyesa??Menanngis??
tak berguna semua itu kawan...
Dimana kalimat "sibuk" itu saat dia menanyakian sedang apa?
dan menyuruh kita pulang untuk mengobati rasa rindunya..
"cintailah mereka saat mereka masih ada..karena diantara kita banyak yang tidak merasakan kehadirannya""
Bukan karena kau terjatuh atau tersandung
Namun karena aku begitu sombong hinggap diperutmu
Ibu kau tahu makna keikhlasan
Bukan karena kau kehilangan harta bendamu
Namun karena aku pernah menyakiti hatimu..
Dulu..kala aku merengek meminta sesuatu
kau hanya tersenyum
seraya berkata..." ia nak, sabar...pasti ada"
Ketika aku membohongimu...
kau diam dan pura-pura tidak tahu..
Dulu saat akku ingin pergi sekolah
begitu sibuknya kau mengurusi aku dan tinggalkan pekerjaanmu
saat ini...kau tak ada disampingku bu....
karena aku sudah kuliah dan besar
kau pasti merindukanku..
Mungkin kau sakit, karena memikirkanku..
"sedang apa anakku disana??,sudah makan kah ia?"
Namun aku hanya selintas memikirkannya..
ketika dia tanya kapan pulang,,dengan sombong aku jawab
"Aku sibuk bu,,banyak ini, banyak itu.."
Sadarkah kita dia kecewa..
tahukah kita dia menangis???
Oh...betapa sombongnya aku ini..
Ingatkah kita bahwa dia tak selamanya ada disamping kita?
Kepada siapa kita akan manja saat dia tidak ada?
Kepada siapa kita curahkan hati kala dia sudah tiada??
Kuburannya...batu nisannya..fotonya...??
Kawa....itu semua tak dapat gantikan nya seperti dia ada disamping kita
Menyesa??Menanngis??
tak berguna semua itu kawan...
Dimana kalimat "sibuk" itu saat dia menanyakian sedang apa?
dan menyuruh kita pulang untuk mengobati rasa rindunya..
"cintailah mereka saat mereka masih ada..karena diantara kita banyak yang tidak merasakan kehadirannya""
Jumat, 24 Juni 2011
SOEMPAH PEMOEDA DILUPAKAN ATAU TERLUPAKAN
Assalamualaikum Wr. Wb
Salam Pemoeda!!!
Kata pembuka yang memang tak akan pernah lekang dimakan zaman, bagi seluruh teman-teman pemuda se- Nusantara yang tengah bersiap-siap membangun Negeri ini untuk lebih maju dan bermartabat.
Sesaat lagi kita akan memperingati hari bersejarah 81 tahun silam, yaitu Soempah Pemoeda ( 28 Oktober). Ada baiknya jika memaknai arti yang tersirat dan makna dari Soempah Pemoeda itu sendiri. Sejarah yang sedikit terlupakan ini sebetulnya memiliki arti mendalam dari rentetean alur sejarah yang silih berganti di alami Bangsa yang bermartabat ini. Betapa tidak !!, kaum muda mengguncang sejarah dengan mendeklarasikan Soempah Pemoeda. Sebuah manifesto yang heroic, dimana seluruh pemuda dan organisasi se-Nusantara berkumpul dan mengikrarkan tiga Sumpah, yang kita kenal dengan soempah pemoeda. Berkaca dari apa yang terjadi di Negeri ini tentu kita akan sedikit mengerucutkan dahi, mengapa?
Karena Kebesaran peristiwa yang terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928 ini dianggap tak sebesar Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Beralasan dari itulah wajar jika selama ini kita tidak pernah melihat lagi ada Acara ceremonial memperingati hari Soempah Pemoeda ini. Apakah Negeri ini sudah melupakan sejarah? Bukan kah Dahulu Bung Karno pernah mengatakan bahwa “ Bangsa Yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan Sejarah bangsa tersebut”. Itukah arti bahwa bangsa ini bukan bangsa yang besar, dan tak akan menjadi besar?.
Betul, Bangsa ini tak akan menjadi besar dengan hanya mengadakan acara Ceremonial Soempah Pemoeda, Setidaknya dengan di adakannya kembali Acara memperingati Hari Soempah Pemoeda kita dapat kembali mengingat apa yang terjadi pada tanggal 28 oktober 1928 silam, dan kemudian kita akan mengingat dan tahu apa yang tersirat dari hari bersejarah Pemuda Indonesia tersebut.
Mengingat pemuda adalah The Agents Of Change (agen perubahan), maka dari itulah mulai sekarang kita berbenah dan mulai memaknai arti sebuah sejarah untuk mulai merubah Negeri yang sedang mengalami krisis baik Ekonomi, Politik dan Moral. Karena pemuda di ibaratkan seperti Nahkoda, dan Negara ini diibaratkan seperti kapal, akan dibawa kemana kapal ini terserah kepada sang nahkoda. Belajarlah dari semangat keberanian dan kehebatan tokoh muda 28 Oktober 1928 Silam, dengan segala perbedaan zaman, budaya, dan keadaan Bangsa yang sudah berbeda, tetapi dengan tujuan yang sama, yaitu memberikan perubahan untuk menjadi lebih baik kepada Negeri Ibu Pertiwi ini. Berdirilah di Garda paling Depan ketika ada yang mencoba merusak semangat pemuda kita.
Selamat Hari Soempah Pemoeda..
Kepada seluruh pemuda se- Nusantara…
PERAN PEMUDA DALAM PEMBANGUNAN BANGSA
Selamat Pagi Indonesia,Selamat Pagi Lampung, Selamat Pagi Para pemuda yang baru saja terbangun dari tidur lelap dan tengah bersiap-siap untuk membangun Negeri ini.
Ungkapan “selamat pagi”, itulah kata pembuka yang pas dan sangat hangat, Karena ketika terbangun di pagi hari adalah rutinitas kita yang diartikan dan dimaknai dalam hubungan ibadah ( Ubudiah = Hablun minnallauh / Hubungan Vertikal ), adalah sebuah ungkapan dan atau bentuk rasa syukur kita atas karunia hidup. Dimana seseorang terbangun dari tidur pulasnya, di dalamnya terjadi pelepasan beban fisik, fikiran, dan bathin.( Dody Susanto. Ilmu politik Bangun Pagi). Ketika pagi hari fikiran kita masih murni dan segar, untuk memulai berfikir apa yang harus dilakukan setelah matahari mulai meninggi.
Inilah titik awal ketika kita harus mengucapkan Selamat Hari Sumpah Pemuda Ke-81 dan berbicara bagaimana langkah kita untuk mulai membangun Negeri ini, Negeri yang dimana kita ketahui sedang mengalami krisis yang tak kunjung usai, sejak runtuhnya Orde Baru.
Jika kita berbicara tentang Negeri ini dan pembangunannya, satu bagian yang tidak akan pernah kita hilangkan dan lupakan, yaitu “pemuda”. Seperti apa yang di sebutkan oleh Ortega G. Yasset, bahwa pemuda adalah the agent of change, yang di bebani harapan-harapan sebuah Bangsa.
Peran Pemuda jelas sudah tidak dapat kita bantah lagi, apalagi dalam runtutan sejarah Bangsa ini. Sejak Zaman kerajaan dahulu, kita Sudah mengenal sosok Pangeran Dipenogoro, yang baru berusia 16 Tahun telah ikut berperang, kemudian Hayam Muruk, yang masih belia sudah memimpin Kerajaan Majapahit, hingga masuk abad ke-19, ketika itu kita mengenal momen kebangkitan Nasional bersamaan didirikannya Budi Utomo, yang di prakarsai oleh tokoh Muda kita sebut saja, Soetomo dan Goenawan Mangoen Kusumo, kemudian selang beberapa Tahun kemudian tepatnya Tahun 1928, Kaum Muda Mengguncang sejarah dengan mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Sebuah Manifesto Yang Heroik, dimana seluruh organisasi pemuda se- Nusantara berkumpul dan mengikrarkan tiga Sumpah yang sekarang kita kenal dengan Sumpah Pemuda. Alur sejarah pun terus berlanjut sampai dengan tahun 1998 bersamaan runtuhnya rezim Orde Baru, dan berganti dengan Era Reformasi. Rentetan sebagian perjalanan sejarah Negara ini sangat kental tercium “darah muda” negeri ini, Itulah mengapa kaum Muda adalah aset yang tak ternilai harganya, apalagi ditengah-tengah segala gejolak yang di alami bangsa dan tak pernah usai saat ini, maka tampuk harapan ada pada pundak para pemuda.
Memang tidak layak jika kita harus membandingkan Pemuda zaman sekarang dengan Zaman Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, masa Kemerdekaan hingga Masa transisi antara Era Orde Baru dan Era Reformasi. Secara teori psikologi memang menyebutkan bahwa setiap orang yang merasa tertindas akan memberontak dan melawan demi perubahan yang di inginkan Karena jelas pada masa itu Negara ini sedang mengalami tekanan dan tindasan yang amat sangat kejam.
Tapi seiring berjalannya waktu pada Abad ke 20 ini, warna-warni modernisasi begitu kental terlihat di setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat yang dimana semua kebudayaan yang berasal dari barat, bebas masuk dan dengan cepat dapat menahkodai dan bahkan mampu menjajah kebudayaan asli kita, ini terbukti dengan fakta hampir semua Stasiun Televisi Swasta berbondong-bondong menyajikan tontonan yang di adopsi dari Budaya Barat, Tentu saja ini sangat memengaruhi cara berfikir masyarakat kita terutama para remaja, dampaknya ini merubah segala tatanan kehidupan remaja kita, contohnya ; Dari cara bergaul hingga cara berpakaian remaja kita sangat jauh menyimpang dari norma kesopanan yang sudah se dari dulu di turunkan para leluhur kita, Sederetan revolusi yang menghinggapi para kaum muda itulah maka kita sejenak harus rela mengerucutkan dahi kita. Sebab kini semangat yang terpatri dan menjadi ciri khas pemuda kita seperti Semangat patriotis dan membangun, yang dahulu melekat di diri para pemuda kita, seolah-olah tertidur karena asik terbuai dengan budaya yang notabene tidak pantas kita terapkan di Negara yang penuh dengan Norma kesopanan ini.
Belum lagi jika kita melihat serentetan kasus criminal dan moral yang melibatkan beberapa pioneer pembangunan kita, yang baru-baru ini mengejutkan public. Seperti tawuran antar Mahasiswa, belum lagi sederetan kasus pelecehan seksual, narkoba yang didalamnya melibatkan generasi muda harapan bangsa ini, patut kita renungkan bersama, sebetulnya ada apa dengan Pemuda kita saat ini?. Sehingga mereka lupa bahwa sebetulnya Negara ini bak sebuah kapal yang butuh Nahkoda, dan merekalah yang akan menjadi nahkoda Negara ini, akan di bawa kemana kapal ini, tergantung seorang nahkodanya?.
Di masa krisis inilah, peran pemuda sangat di butuhkan untuk mengurai permasalahan demi permasalahan yang mendera bangsa ini. Seperti apa yang di lakukan di masa-masa sebelumnya, di mana pemuda menjadi pioneer dalam penyelesaian permasalahan yang di alami Bangsa ini. Pemudalah yang menjadi the agents of change, dalam setiap alur peradaban Bangsa ini, apakah menjadi lebih baik atau sebaliknya.
Sejatinya Perubahan tidak bisa kita tunggu tetapi harus kita kejar. Dan sudah selayaknya setiap perjuangan membutuhkan kerja keras, dan di butuhkan kapabilitas, dan jangan pernah merasa “belaga’ hebat”, kita harus tunjukan dahulu prestasi kita baik dari segi Intelektual, dan kematangan emosi . Lupakanlah sejenak tentang ke glamoran Modernisasi, globalisasi dan sebagainya. Lupakan Pertikaian antar sesama demi tujuan yang tidak jelas. Asahlah kemampuan emosional, seperti kemampuan membawa diri, kemampuan bergaul dengan sesama, kemampuan membaca akar permasalahan, kemampuan untuk menelorkan gagasan atas sebuah permasalahan, Agar kita tidak menjadi budak dari budaya Modernisasi yang di prakarsai oleh budaya Barat.
Marilah bersama-sama kita meriahkan hari Sumpah Pemuda ini dengan memaknai dan meresapi atas apa yang tersirat dari Sumpah Pemuda tersebut, sebagai langkah awal menuju generasi muda yang tangguh yang mampu mempertahankan kebesaran Negeri ini.
TALANG PADANG YANG MALANG
Tiba-Tiba saja aku rindu akan tanah kelahiran ku yang sudah lama ditinggalkan demi menuntut ilmu di Negeri Orang. 21 Tahun Silam saya dilahirkan di Talangpadang, kota yang kental akan sejarah, kebudayaan yang beragam, peradaban dan pusat penyebaran penduduk di Kab. Tanggamus bahkan Lampung Selatan ( Kab. Tanggamus Pecahan Kab. Lampung Selatan ).
Sangat manusiawi jika setiap orang merindukan tanah kelahirannya karena itu menandakan bahwa kita memiliki jati diri.
Tak tahu apa dasarnya yang pasti aku rindu dengan keadaan Pasar yang bau, Semeraut, tingkat kriminalitas yang tinggi, kedaan lalu llintas yang jauh dari namanya tertib, pendidikan dan SDM yang seadanya, dan wajah-wajah pribumi yang mengais rezeki di bawah kaki para kaum pendatang yang sukses mengintervensi penduduk asli.
Itulah sederet gambaran yang mengisahkan cerita tentang kokohnya Kota Talangpadang.
Kemana Para Pimpinan Kecamatan? Kemana Pimpinan Kabupaten?, Kemana Anggota Dewan Terpilih yang berasal dari Talang padang ?.
Dimana Posisi HIPPTA (Himpunan Pengusaha Pasar Talangpadang) yang sejak 2001 di dirikan dengan tujuan menciptakan keamanan, kebersihan, keindahan pasar itu sendiri.
Apakah Bau menyengat pasar tak mengganggu hidung Mereka, Apakah kesemrautan Lalu lintas tak mengganggu perjalanan mereka?.
Kemudian apa maksud dari kutipan “ Talang Padang Kota SEBATIN “ ( Sehat, Bersih, Aman, Tertib Dan Disiplin ), apakah itu sudah tepat sasaran ataukah itu hanya Jargon untuk moment tertentu ?.
Apalagi sejak bulan April yang lalu Kecamatan Pringsewu yang dahulu terkenal menjadi sentra perekonomian Kab. Tanggamus telah resmi lepas dari Kabupaten Tanggamus, dan mendirikan Kabupaten Sendiri.
Artinya bukan berarti lepasnya Kec. Pringsewu kemudian Kab. Tanggamus kehilangan Sentra Perekonomian, toh ada dan tiadanya Kec. Pringsewu Tanggamus tetap berdiri dan bahkan kokoh.
Mengapa ini tak kita jadikan kesempatan untuk membuktikan bahwa Talangpadanng pun bisa menjadi pusat sentra perekonomian Tanggamus seperti apa yang orang-orang asumsikan kepada Pringsewu, bahkan kita bisa menjadi lebih baik daripada Pringsewu.
Atas Dasar moment itulah mulai sekarang persiapkan lah diri kita untuk menjadikan Talangpadang menjadi Pintu Gerbang Kabupaten Tanggamus, dan menjadikan talangpadang pusat Sentra perekonomian Tanggamus kedepannya.
Memang terkadang apa yang kita ucapkan tak semudah apa yang kita lakukan, tapi atas dasar niat dan keionginan Insya Allah mimpi kita semua tersebut akan menjadi kenyataan.
Mulailah kita benahi tata Ruang Pasar talangpadang kebersihan pasar, dan ketertiban Lalu Lintas, bukankah jargon Pimpinan Kab. Tanggamus adalah “ Pasar milik Kita bersama, jagalah kebersihannya “.Mengapa tak kita terapkan itu.
Dan sudah barng tentu itu membutuhkan kerjasama dan koordinasi Baik Pihak Kecamatan Talangpadang, Kabupaten Tanggamus, dan Pihak HIPPTA Talangpadang.
Kota Talangpadang yang kita cintai ini telah lama tertidur, maka harus kita bangunkan agar tak tertidur lebih lama dan tertinggal lebih jauh.
Dengan semangat membangun yang kita miliki mari bersama-sama kita bangun Talangpadang untuk berkembang dalam segala aspek, dengan harapan anak cucu kirta nanti akan merasa bangga manjadi putra daerah Kecamatan Talangpadang.
SINETRON ITU BERJUDUL : ANTARA AKU ( KPK ) DAN DIA ( POLRI )
Tak tahu siapa sutradaranya, Yang pasti Seluruh stasiun Televisi saat ini sedang diramaikan dengan gejolak panggung konflik antara KPK dan POLRI.
Tontonan permasalahan ini sampai-sampai mengalahkan anemo penonton akan Sinetron-sinetron yang selalu menghiasi layar kaca masyarakat sehari-hari.
Mengapa?, karena masyarakat dibuat Gemas, Cemas dan penasaran siapa yang salah dan benar dalam tontonan panggung Pemerintahan. Layaknya kacamata Masyarakat menonton Film Sinetron seperti Cinta Fitri, yang selalu dihinggapi rasa Gemas, Cemas, dan Penasaran bahkan terkadang keluar terlontar kata-kata makian dari masyarakat awam apa bila sang tokoh utama terdzolimi. Dan aktor utama dalam Sinetron Antara Aku dan Dia versi KPK dan POLRI adalah Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah.
Hanya yang membedakannya adalah jika Sinetron seperti Cinta Fitri dan Lainnya adalah buah karya cipta dari panggung Hiburan dengan tujuan memberikan tontonan yang menghibur kepada masyarakat dan kemudian masyarakat dapat memberikan penilaian terhadap siapa yang berperan sebagai tokoh yang Baik (Prontagonis), dan tokoh yang Jahat ( Antagonis ). Tapi dalam Sinetron Antara Aku dan Dia Versi KPK dan POLRI, adalah sebuah karya cipta yang nyata berdasarkan realita dan fakta dari sebuah panggung pemerintahan kita yang bobrok yang memberikan pelajaran berharga kepada masyarkat bahwa inilah keadaan Bangsa kita saat ini. Kemudian hasilnya adalah masyarakat dibuatkan statement bahwa jangan pernah percaya akan pemerintahan Bangsa ini, karena semua adalah hasil rekayasa dan kemudian masyarkat dipaksa atau terpaksa harus menyaksikan perseteruan konflik layaknya Sinetron di panggung tokoh besar Bangsa ini.
Mengapa demikian?, karena permasalahan yang terbiaskan ini seolah-olah sudah ada yang merekayasa dan ada skenarionya. Permasalahan yang berawal dari Testimoni Mantan Ketua KPK yang juga tersangka Kasus Pembunuhan Dirut PT Putra Banjaran Nasruddin Zulkarnaen, yaitu Antasari Azhar.Yang kemudian menyeret beberapa rekanan di KPK Bibit dan Chandra.
Peranan Bibit dan Chandra layaknya seperti actor yang tengah difitnah oleh sang penjahat karena adanya dendam pribadi atau permasalahan pribadi. Kemudian timbulah gejolak dari para penonton yang kemudian terucap caci-makian terhadap penangkapan Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah Oleh Polri, serentak Masyarakat menghujam segala tindakan Polri.
Beruntunglah ditengah kerunyaman permasalahan bangsa ini layaknya benang kusut yang sangat sulit diuraikan, kemudian datanglah tokoh yang akan membela kebenaran atas permasalahan yang terjadi di Sinetron Ada Apa Dengan Aku Dan Dia versi KPK dan POLRI ini. Yaitu Tim 8 atau TPF yang diketuai Oleh Adnan Buyung Nasution, Tim ini dibentuk langsung oleh tokoh utama Bangsa ini Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Meredalah amarah para penonton ( rakyat ) dengan adanya Tim ini, setidaknya ini adalah jawaban atas segala amarah rakyat. Dan diharapkan Tim ini dapat mengurai benang yang sudah kusut ini
Kemudian Munculah tokoh lain, yang meramaikan Cerita yaitu Anggodo Widjojo yang tak lain adalah adik kandung Anggoro Widjojo yang juga Pimpinan PT MASARO RADIOKOM, yang juga terlibat sebagai tersangka penggelapan dana di Departemen Kehutanan yang hingga saat ini masih buron.
Munculnya Anggodo dibarengi dengan temuan bukti percakapan yang diperdengarkan bersama-sama di MK. Yang lebih mencengangkan dalam pembicaraan Anggodo dan rekanannya, menyebutkan nama-nama Tokoh besar Bangsa ini yaitu RI-1 yang tak lain adalah Presiden Negeri ini, kemudian Truno 3 yang ditujukan kepada Orang Ketiga dalam jajaran Polri, untuk hal ini adalah KABARESKRIM Susno Duadji, yang disebutkan Bahwa Susno Duadji pernah menerima Uang dari Anggodo. Tetapi ketika Dipanggil Oleh Tim 8, ternyata Bersiap Disumpah bahwa Beliau tidak pernah menerima Uang Sedikitpun dari Anggodo.
Kemudian Timbulah pertanyaan , siapa Sebetulnya sosok Seorang Anggodo Widjojo? Hingga Mampu menyetir Negeri ini. Dan Mengapa sampai saat ini Anggodo tidak dapat ditangkap, seharusnya melalui bukti rekamanan pembicaraan tersebut sudah bisa menjerat adik dari Anggoro Widjojo ini. Karena Sepertinya Anggodo lah yang menjadi kartu As dalam permasalahan ini.
Tetapi kembali lagi ini adalah sinetron, sudah tentu ada yang menyutradarai. Kita Sang penonton hany bisa menyaksikan lewat layer kaca tanpa mampu melakukan apa-apa kecuali mencemooh dan memaki kepada sosok yang menurut persepsi kita benar dalam cerita tersebut.
Tentu jika Cerita antara KPK vs POLRI ini diibaratkan sebuah sinetron, mak pada akhirnya nanti kebenaran pasti akan terungkap, dan yang salah akan menerima ganjaran yang setimpal atas apa yang telah ia perbuat. Itullah harapan dari para seluruh penonton Sinetron Ada Apa Dengan Aku ( KPK) dan Dia (POLRI). Biarlah cerita ini terus bersambung karena telah ada tim penyelamat yaitu Tim 8, yang akan mengungkap kebenaran atas permasalahan ini, hingga akhirnya semua selesai dan terungkap brdasarkan Realita Fakta bukan Sekedar Retorika.
Penonton Boleh Mengeluarkan segala persepsi atas permasalahn ini, kita boleh Pro dan Kontra terhadap KPK dan POLRI, tapi tentu harus ada dasar yang jelas bukan hanya mengikuti ego pribadi atau kedekatan Institusi. Ada baiknya penonton Menyaksikan Sinetron Antara Aku (KPK) dan Dia (POLRI) ini, hingga selesai sampai kita tahu siapa yang salah dan siapa yang benar, atau mungkin juga mereka adalah korban dari Rekayasa Oknum yang menginginkan Perpecahan terhadap Bangsa Ini.
Untuk mencegah hal tersebut mulai dini jangan sampai kita terbawa oleh suasana yang telah memanas ini, percayakanlah kepada mereka-mereka yang diberikan kepercayaan oleh RI-1 untuk menyelesaikan masalah ini. Tetapi tetaplah kritis dengan masalah yang dihadapi oleh bangsa ini.
Selamat menyaksikan panggung tontonan karya Cipta Tokoh Besar Negeri ini.
PERAN SERTA PENDIDIKAN, ORANG TUA DALAM PEMBENTUKAN MORALITAS KEPEMUDAAN
Layaklah jika kita mengorelasikan antara sebuah Negara dengan Pemuda Negara tersebut. Karena Bukan hanya Indonesia, seperti Negara-Negara Amerika Selatan Argentina, Chili, Kolombia, dan Di Asia Terdapat Thailand, Vietnam dan Filiphina yang pernah merasakan Kehebatan The Young Power Negara Masing-masing dalam segi perubahan yang fundamental terhadap ke eksistensian Bangsa.
Tak tertampikan oleh Bangsa kita sendiri, bahwa kaum mudalah yang selalu menghiasi pergolakan sejarah dengan alur yang silih berganti. Dengan Spirit Idealism yang datang dari Pionner Muda ini, mampu melahirkan perubahan-perubahan yang heroic dan Manifesto.
Namun Sejak runtuhnya Orde Baru Pada Mei 1998 silam, nampaknya Spirit Idealism pemuda pun ikut hilang dari atmosfer Negeri ini.
Apakah karena seiring berkembangnya Zaman dan masuknya arus Globalisasi yang Sporadis?, Sehingga Spirit Idealism yang selalu di elu-elu kan se dari dahulu Zaman Kerajaan itu berganti menjadi Spirit Hedonism?.
Ini sangat terbukti dengan sikap-sikap Apatisnya Pemuda kita terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi di Negeri ini. Sikap Kritis yang dahulu selalu tercium di darah Muda Bangsa ini, sekarang sepertinya tak tercium kembali.
Kemudian Hilangnya Rasa persatuan, dan kesatuan di diri para punggawa muda kita yang tertuang di Sumpah Pemuda yang sangat sakral yaitu Bertanah Air Satu, Berbangsa Satu, Dan Berbahasa Satu pun hilang terkikis oleh derasnya gelombang kemajuan Zaman.
Ini terlihat dengan banyaknya kita melihat penayangan-penayangan di Televisi tentang Tawuran, Perkelahian, Narkoba, tindak Asusila yang menempel erat di diri kaum Muda Penerus Bangsa Ini. Artinya inilah bukti yang merujuk bahwa terdegradasinya Moral Pionner Muda kita.
Tak layak Memang jika kita hanya menyalahkan derasnya arus Globalisasi Modernisasi dalam hal ini. Lantas Siapa yang harus bertanggung jawab atas terdegradasinya Moral anak Bangsa ini?
Untuk hal ini adalah pihak Orang tua dan Dunia Pendidikan kita yang harus pertama kali mengintropeksi diri mengapa?
- Dunia Pendidikan kita saat ini kurang efektif memberikan pelajaran Etika, Moral, Akhlak terhadap peserta didiknya. Terlihat dari beberapa kalinya Dunia Pendidikan kita Merevolusi Mata Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila ( PMP ), yang kemudian dig anti dengan Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan ( PpKN ), yang didalamnya mengajarkan Bagaimana Menjadi Waraga Negara yang Baik, menurut Pancasila yang menjadi dasar Negara ini, Bukan menurut Rasa Kemanusiaan Lahiriah dan Bathiniah. Setelah itu beberapa tahun kemudian Di gantilah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan ( PpKN ) menjadi Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ( PkN ) Dengan Asumsi bagaimana caranya menjadikan peserta didiknya menjadi warganegara yang baik yang taat pada peraturan pemerintah, Tapi tak di didik bagaimana menjadi Seorang warganegara Yang baik dan Bermoral tinggi hingga memiliki rasa Nasionalisme dan Patriotisme di jiwa masing-masing Peserta didik. Bukankah tertuang di dalam UU Pendidikan bahwa setiap Institusi Pendidikan Wajib memberikan Pelajaran Etika, Moralitas. Dan inilah ketika Pesan Moralitas dari Dunia Pendidikan kita tidak tersampaikan kepada peserta didik dengan tepat , wajar jika selama ini kita melihat kecendrungan peserta didik yang enggan dan malas akn mengenyam dunia pendidikan dan melakukan hal-hal yang melanggar Norma yang ada.
- Kemudian Adalah adanya peranan Orang tua, Peranan Orang tua sangat menentukan terhadap pembentukan karakteristik Moral Pemuda kita. Karena Tugas Pokok dan Fungsi ( Tufoksi ) orang tua selain menjamin kehidupan sang anak dan pendidikan san anak adalah, memberikan Pengarahan, Pengawasan terhadap segala hal yang dilakukan oleh sang anaknya. Dari segi pergaulan, tempat bermain, dan hobi, sebagai orang tua harus mengetahui. Karena selama ini yang terjadi adalah kenakalan remaja didasari tidak adanya control dari orang tua. Terutama terhadap orang tua yang memiliki jam kesibukan diluar dengan karirnya, Porsi untuk anak melakukan suatu tindakan yang menyimpang dari etika moral, sangat besar. Ini dapat kita temukan dikota-kota besar, yang masing-masing orang memiliki jam kesibukan yang tinggi dan menuntut kita menjadi manusia yang individualitas. Karena Sejatinya kasih saying, perhatian orang tua terhadap anak dapat menentukan moral anak tersebut. Maka dari itu Harus adanya perhatian dari pihak orang tua, untuk membentengi anak melakukan hal-hal yang melanggar etika moral baik Hukum Negara dan agama.
Apalagi dengan keadaan Bangsa yang tengah mengalami pasang surut Krisis baik Krisis Ekonomi, Politik, Budaya, Moral bahkan adanya Perseteruan di Internal Bangsa Kita sendiri.
Ini sangat membutuhkan suatu Sentuhan Tangan Dingin dari para The young Power, dengan sikap kritis, spirit Idealism, dari darah Pemuda untuk dapat membantu menyelesaikan persoalan demi persoalan yang terjadi di tanah air ini.
Tetapi bukan dengan sikap yang pragmatisdan tidak mau susah atau Hedonisme pemuda. Karena permasalahan ini telah menjadi akar yang besar nan kuat, sehingga dibutuhkan semangat persatuan, kesatuan, yang dengan kepala dingin mampu merubah suatu keadaan Bangsa yang sedang semrawut ini.
Layaklah jika kita memikirkan apa yang dahulu Bung Karno pernah katakan pada saat berpidato “ Berikan aku Dua puluh Pemuda maka aku akan Merubah Negeri ini!”. Itulah artinya bahwa Peran Pemuda sangat dibutuhkan karena menentukan suatu perubahan Bangsa Ini.
Tapi sudah Barang tentu ini pun tanggung jawab Semua bukan hanya pemuda, seperti Orang Tua, Pemerintah ( Pendidikan ), pun dapat memberikan contoh apa dan bagaimana yang harus ditiru oleh pemuda?. Karena secara Psikologis Setiap orang selalu menyontoh perilaku orang terdekatnya atau yang ia kagumi ( Frame Of References ), maka dari itu orang tua harus menjadi orang yang dapat dikagumi oleh masing-masing anaknya. Kemudian Baik Orang Tua di rumah Maupun Di dunia Pendidikan atau disekolah ( guru ), harus memberikan pelajaran tentang etika, moral baik Moral Keagamaan maupun moral Kepancasilaan.
Dengan begitu Pemuda kita atau The Agent of Change Negeri ini akan terbentuk Moralitas yang tinggi dengan sendirinya Rasa Nasionalisme, Patriotisme yang menjadi Budaya Pemuda Bangsa ini akan terus terjaga hingga anak cucu kita nanti.
MENCIPTAKAN “ DEMOCRATIC CITIZHENSHIP” DALAM KETAHANAN NASIONAL
Assalamualaikum Wr. Wb
Tak tertampikan jika Pembangunan dan segala perubahan yang dialami suatu Bangsa adalah buah Persatuan dan Kesatuan Komponen Bangsa. Dan Bangsa ini telah merasakannya jauh sebelum Banga ini menghirup udara kebebasan dari pada Intimidasi dari Bangsa Kolonial. Bangsa colonalial telah lama menjajah bumi Nusantara kita 350 Tahun, bukan waktu yang singkat ketika kita berada dalam kondisi tertindas. Hanya Pertanyaannya adalah ada apa dengan masyarakat kita sehingga bangsa ini dapat dikendalikan selama itu oleh bangsa lain?
Jawabannya adalah merujuk kepada tingkat kurangnya kesadaran Masyarakat kita akan rasa persatuan dan kesatuan antar individu Masyarakat dan Komponen Masyarakat. Yang kemudian dijadikan Senjata Boomerang bagi bangsa Penjajah. Kemudian seiring perjalanan waktu, rasa terintimidasi itu berbuah rasa ingin berontak, baik secara fisik maupun intelektual. Dimulai dari Pembentukan Organisasi Berbasis Keagamaan, Pendidikan, dan Kemasyarakatan, kemudian berlanjut pada tahun 1928, yaitu Pergerakan Pemuda Seantero Nusantara, yang mengikrarkan tiga sumpah yang sangat sacral yaitu Sumpah Pemuda. Inilah tonggak balik dari awal perjuangan bangsa yang berjalan stagnan. Sehingga pada akhirnya pada 17 Agustus 1945 Bangsa kita dapat merasakan Udara segar yang telah diimpi-impikan sejak 350 tahun sebelumnya.
Perjuangan yang dibumbui rasa persatuan, kesatuan, dan kesamaan nasib adalah senjata yang sangat canggih. Dibandingkan dengan persenjataan yang lengkap seperti para bangsa Kolonial yang telah menjajah Bangsa kita. Karena Perjuangan ini melibatkan seluruh komponen rakyat Indonesia . Secara Lintas Agama, Budaya, suku dan Keanekaragaman Bangsa,
Dan semua perwujudan Keinginan dan Ideologi itu, tertuang dalam UUD 1945, dan Pancasila sebagai kontrak social yang merumuskan persamaan antar warga-negara. Yang sampai saat ini masih kita pegang teguh dalam pengimplementasian kenegaraan.
Terciptanya Politik Identitas
Memasuki era pasca kemerdekaan kita sangat bertolak belakang dengan atmosfer komponen Bangsa Pra Kemerdekaan yang pada akhirnya Negara ini mengalami gejolak internal dimana musuh yang kita lawan adalah saudara kita sendiri yang menginginkan konsepan Negara mengacu pada Ideologi pribadi dan Kelompok.
Dan Kini yang kita rasakan bahwasanya kondisi bangsa kita mengalami kemunduran beberapa ratus tahun yang lalu, dimana rasa persatuan dan kesatuan telah ikut hilang tergerus arus kondisi yang telah berkembang mengikuti peradaban, yang sangat di sayang kan bangsa kita belum siap menghadapai tantangan global tersebut.
Terlihat sekali bahwa komponen Bangsa ini seperti berjalan pasral, kehidupan Demokrasi di dalam penyelenggaraan pemerintahan saat ini sarat dengan peningkatan Dinamika politik secara massif, yang dalam perjalanannya menghadirkan gesekan, pertentangan, tarik menarik kepentingan dan kecenderungan pembelahan antar kekuatan social politik ditingkat infrastuktur maupun suprastruktur, dan ini adalah ancaman yang nyata bagi tegak kokohnya NKRI pada konteks saat ini.
Realita yang terjadi sekarang ini pada masyarakat di Negara kita sangat senang mengidentitaskan agama dan etnis mereka sebelum menyatakan sebagai Orang Indonesia . Dan pada akhirnya Pelembagaan demokrasi Di Indonesia Saat ini terhalang oleh politik Identitas. Dimana Eksklusivisme kelompok telah menutup peluang percakapan politik Horisontal.
Yang pada dasarnya Konstitusi Negara tidak menyebutkan Indonesia Negara teokrasi namun secara Eksplisit mengakui keyakinan beragama penduduknya. Yang terjadi kemudian adalah sikap mendua aparat negara sendiri. Pada satu sisi tidak terang-terangan mendukung persekusi, tapi pada sisi lain membiarkan hukuman kolektif dilakukan oleh penganut agama terhadap kelompok minoritas. Dan inilah yang terjadi pada bangsa kita saat ini.
Kemudian Asumsi Keberagaman Suku sebagai perbedaan dan dinding pemisah. Adalah sangat bertentangan dengan pilar Bangsa yaitu “ Bhineka Tunggal Ika “dan kontrak social di dalam Pancasila.
Hal ini sangat mengancam terhadap Integritas Ketahanan Bangsa kita. Dan inilah yang harus menjadi pemikiran dan pekerjaan kita semua sebagai komponen Bangsa dalam rangka menjaga Integritas Bangsa, ( Berdasarkan UU Nomor. 03 Tahun 2002 ) dan menciptakan Democratic citizenship yang kemudian menjaga keutuhan NKRI.
Persamaan Hak dan Kewajiban
Democratic Citizenship adalah sebuah Tatanan yang mengatur cara Hidup bersama, yang selaras dengan apa yang tertuang dalam Pancasila. Sehingga akan tercipta rasa persatuan dan kesatuan dalam penyelenggaraan Politik Demokrasi yang didalamnya mewujudkan masyarakat terbuka dengan keadilan dan kesejahteraan sebagai tujuan bersama. Dan Citizenship sendiri berarti Bahasa yang perlu disebarluaskan untuk terciptanya percakapan public terbuka sebagai mana Masyarakat dalam Negara Demokrasi.
Artinya Warga Negara sebagai subyek politik Demokrasi dijamin Harus dijamin oleh Konstitusi dan penyeleggaraan harus bebas dari Distorsi politik sectarian, Intoleransi dan semua obsesi politik identitas berdasarkan agama, etnies tradisi dan pandangan-pandangan primordialisme konservatif. Kebersamaan Sosial hanya dilakukan untuk menjamin keadilan social. Prinsip solidaritas social dasarnya bukan altruisme religi melainkan kesetaraan hak dan keadilan. Atau konstitusi ( dan Negara ) harus menjamin kerangkan kerja hukum agar ketimpangan sosia yang mengakibatan diskriminasi tidak terjadi dalam masyarakat.
Karena pada dasarnya ketika adanya perubahan Konstitusi, Parlemen, kultur cabinet itulah tandanya Democratic Citizenship terbentuk. Tetapi sayangnya pada saat ini hak politik yang kita nikmati juga dikonsumsi oleh mereka yang anti demokrasi. Kaum Fundamentalis mengkonsumsi hak politik dan efeknya adalah terciptanya peraturan-peraturan berdasarkan Ideologi kelompok sendiri. Jadi persoalannya adalah bukan sekedar hak politik yang kita punyai, tetapi kebebasan sipil ( civil liberties ) secara material belum kita nikmati. Nah pada kelemahan ini yang akan kita perbaiki lewat konsep Citizenship.
Artinya dalam menciptakan Democratic Citizenship harus didukung dengan adanya Public good, Common Good. Ketika telah terciptanya itu maka Democratic Citizenship akan menjadi bermakna. Jika kita ada keterikatan terhadap kehidupan bersama, artinya harus ada keterikatan mengenai tujuan bersama.
Prinsipnya adalah perlindungan hak social, politik, ekonomi masyarakat, bukan praktek kulturnya.
Sehingga ketika ini sudah terlaksana maka adanya kontak komunikasi yang baik antar lintas agama, dan etnies, dan munculah rasa persatuan dan kesatuan sama seperti apa yang telah tercipta pada masa yang lalu, ketika adanya rasa kesamaan dalam penderitaan, dan munculah keinginan dan tujuan yang sama hanya yang membedakannya adalah kondisi dan pengimplementasiannya, ketika pada saat itu adalah berjuang untuk meraih, dan kini adalah berjuang untuk mempertahankan Integritas NKRI. Itulah inti dari Democratic Citizenship, dalam Ketahanan Nasional.
Billahi taufik Wal Hidayah
Wassalamualaikum Wr. Wb
Sebuah refleksi peringatan 13 tahunreformasi 98
Sebuah refleksi peringatan 13 tahun Reformasi ’98)
Peringatan tragedi 13 tahun silam, layaknya bom waktu yang akan meledak akhirnya meledak juga. Kerakusan dan perlakuan semena-mena yang ditunjukkan oleh rezim kala itu, akhirnya tumbang dengan kekerasan komunal. Bulan Mei 1998, seluruh gerakan mahasiswa, kepemudaan dan ormas-ormas lainnya, “memaksa” rezim otoritarian Soeharto turun dari tampuk kepemimpinan. Tentu ini prestasi besar bagi bangsa Indonesia, menumbangkan rezim yang lebih dari 30 tahun bercokol menguasai kekayaan rakyat Indonesia.
Momentum Peringatan trgedi reformasi ‘98 selalu melibatkan ribuan orang yang amat beragam baik ras, etnis, agama, usia, gender maupun latar belakang. Ada ribuan anak mulai dari tingkat Taman Bermain, Taman Kanak-Kanak sampai orang dewasa yang bertekad membangun Indonesia yang damai dimana semua orang dihargai sebagai manusia yang setara. Mereka semua bahu-membahu membuat momentum Peringatan ini menjadi momentum membangun tekad dan harapan bersama. Setiap orang mengambil peran sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ada ribuan aktivis mahasiswa yang membuat cap telapak tangan perdamaian, ada kelompok perempuan yang menyiapkan dan menabur bunga, ada kelompok korban peristiwa tersebut dan relawan yang membuat replika dan poster-poster yang mengingatkan kita untuk kembali mengenang betapa menyedihkanya peristiwa yang merenggut nyawa empat mahasiswa dan masyarakat sipil lainnya mengalami luka-luka. Kita bisa meraih harapan kita asalkan kita bergandengan tangan dan mensinergikan semua kekuatan keragaman bangsa kita, itulah semangat yang disusung oleh mereka.
Bergandengan tangan, mensinergikan semua kekuatan adalah harapan dan cita-cita yang termaktub dalam pancasila, sila ke-dua “kemanusiaan yang adil dan beradab “,bagaimana tidak Negeri yang terhimpun dari berbagai suku, etnis dan ras mampu tegak berdiri. Namun hari ini disaat kita dipaksa untuk bertahan dan melawan arus modernisasi dan gangguan dari pihak luar, masyarakat Indonesia tak kunjung dapat menyelesaikan konflik internal yang kini menjadi gunung es. Kemudian apa makna dari sila kedua? Benarkah manusia Indonesia adalah manusia yang pemarah dan beringas? Dan apa makna dari gerakan mahasiswa dalam tragedi ’98?
Momentum Peringatan trgedi reformasi ‘98 selalu melibatkan ribuan orang yang amat beragam baik ras, etnis, agama, usia, gender maupun latar belakang. Ada ribuan anak mulai dari tingkat Taman Bermain, Taman Kanak-Kanak sampai orang dewasa yang bertekad membangun Indonesia yang damai dimana semua orang dihargai sebagai manusia yang setara. Mereka semua bahu-membahu membuat momentum Peringatan ini menjadi momentum membangun tekad dan harapan bersama. Setiap orang mengambil peran sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ada ribuan aktivis mahasiswa yang membuat cap telapak tangan perdamaian, ada kelompok perempuan yang menyiapkan dan menabur bunga, ada kelompok korban peristiwa tersebut dan relawan yang membuat replika dan poster-poster yang mengingatkan kita untuk kembali mengenang betapa menyedihkanya peristiwa yang merenggut nyawa empat mahasiswa dan masyarakat sipil lainnya mengalami luka-luka. Kita bisa meraih harapan kita asalkan kita bergandengan tangan dan mensinergikan semua kekuatan keragaman bangsa kita, itulah semangat yang disusung oleh mereka.
Bergandengan tangan, mensinergikan semua kekuatan adalah harapan dan cita-cita yang termaktub dalam pancasila, sila ke-dua “kemanusiaan yang adil dan beradab “,bagaimana tidak Negeri yang terhimpun dari berbagai suku, etnis dan ras mampu tegak berdiri. Namun hari ini disaat kita dipaksa untuk bertahan dan melawan arus modernisasi dan gangguan dari pihak luar, masyarakat Indonesia tak kunjung dapat menyelesaikan konflik internal yang kini menjadi gunung es. Kemudian apa makna dari sila kedua? Benarkah manusia Indonesia adalah manusia yang pemarah dan beringas? Dan apa makna dari gerakan mahasiswa dalam tragedi ’98?
Langganan:
Komentar (Atom)